Selasa, 03 Juli 2012

Short Memory Loss (part 1)

Gue pasang modem, gue konek, gue buka internet, gue buka google, gue siap ngetik di search engine, lalu tiba-tiba... ngiiinggg... otak gue kosong. Gue lupa mau ngetik apa, gue lupa mau nyari informasi apa, gue bahkan lupa untuk apa gue buka google. Gue minum kopi dulu, gue makan dulu, gue nonton tivi dulu, tapi gue tetep lupa untuk apa gue buka internet. Oke, ada sedikit petunjuk. Riset. Ya, betul. Gue bersorak girang. Tapi, riset apa? Otak nge-blank lagi. Akhirnya, gue terdampar di twitter dan FB. AGAIN!


Hal seperti ini sudah seringkali terjadi. Gue bahkan lupa di mana menyimpan seusatu padahal hal itu baru berlalu tidak lebih dari tiga detik. Yang parah nih, gue sering lupa kalau gue udah punya suami sehingga kadang kaget kalau ada cowok tidur di sebelah gue dan sering mengira kalau itu kolor ijo. Bwahahah...


Jadi, gue memang butuh pencangkokan otak segera. Sekian.


Add to Cart More Info

Sabtu, 20 Agustus 2011

BANGSAT!

Ini hati kayaknya sudah memenuhi syarat untuk diamputasi. Mulut ini juga mungkin harus dikebiri. Gue jadi senang mencaci, jadi senang berkata-kata duri.

Ibarat comberan, mulut gue udah penuh dengan kotoran. Sampah serapah.

Tapi mereka para amfibia itu pantas disebut bangsat sebangsat-bangsatnya.

Honestly, gue bosen berhadapan dengan semua mahluk an**** kayak mereka; yang nggak tahu cara bener memperlakukan perempuan. Yang selalu minta dikasihani, mengemis minta disetubuhi. Gue bosen!


Add to Cart More Info

Senin, 04 Juli 2011

CATATAN SEORANG BURUH PABRIK YANG NYARIS BUNUH DIRI

Seperti dalam status yang gue tulis beberapa menit yang lalu, sakit kepala ini ternyata berkembang menjadi sakit jiwa. Apa penyebabnya gue juga nggak tahu pasti. Yang gue tahu, sejak pertengahan minggu yang lalu gue kagak ngantor, buka e-mail kantor seperlunya, lihat e-inv serasa melihat sebuah website yang mengajak perang.  Mau ke dokter juga males karena gue nggak yakin bisa disembuhkan dengan metode pengobatan apapun.

Gue udah mencoba untuk menelaah dan merunut apa yang sebenarnya sedang terjadi pada diri gue yang keren ini.  Ya, gue si Uchan a.k.a Skylashtar Maryam yang wokaholic ini. Gue yang rela ngelembur walau orang lain kagak ada yang lembur. Gue yang rela ngemakloonin cucian supaya bisa masuk kantor di hari libur. Gue yang paling semangat kerja di antara 20 orang shipping dept. Gue yang itu, yang memiliki keinginan untuk merintis karier sampai ke tingkat setinggi-tingginya.

Jangan ngomongin gaji!  Gaji gue tanggal 1 kemarin cukup untuk beli blackberry 2 biji (tapi yang seken).  Gaji gue udah diadjust, insentif gue udah turun gunung.  Lantas apa?  Ada apa?

There is something bad happen to me.

Sialnya gue nggak tahu apa itu.

Mungkin gue sedang mengalami degradasi keinginan untuk hidup.  Eniwei, degradasi teh naon? Ah, bae weh teu ngarti oge beh keren weh ieu tulisan.

Mungkin gue sedang mengalami yang namanya employeeblock dimana seorang pegawai menganggap pekerjaannya sebagai ranah untuk terserang penyakit ginjal. Mungkin gue sedang tergiur pada nasib emak-emak lain di kampung yang setiap hari dengan santainya ngegosip di depan 'masigit'.

Gue nggak lagi nyari kerjaan baru karena gue CINTA kerjaan gue yang sekarang.  Gue nggak niat resign karena tahu kalau gue resign anak gue nggak bakalan ada yang ngasih makan.  Gue cuma bosan.

Thats it!  Finally I found the keyword=> B.O.S.A.N

Kagak, gue kagak bosan dengan pekerjaan. Gue bosan dengan diri gue sendiri. Gue bosan punya gaji yang mencukupi tapi habis dalam waktu dua hari dan terlilit hutang sebesar 350 ribu perak. Padahal kalau gue mau review, seharusnya itu utang bisa dibayar, tapi karena gue sibuk belanja di hari pertama gajian, uang gue nggak bersisa kecuali struk belanja yang bikin gue tambah sakit kepala.

Jadi ini tentang uang dan utang?  Mungkin iya, mungkin juga tidak.

Gue mulai merasa useless kalau mengingat saldo ATM yang raib seketika itu. Kenapa? Karena itu semua bukan salah orang lain. Karena itu semua salah gue yang tidak bisa memanajemen pengeluaran gue sendiri.  Gue tolol dan dungu. And I hate those things.

Oke, judul yang gue pakai sebagai note ini memang sangat provokatif dan impresif.  Karena itu adalah hasil dari otak kanan gue yang memang seorang penulis best seller ini (ngarep).  Sebetulnya saudara-saudara...  gue berusaha membunuh diri gue sendiri dengan cara minum lima galon kopi i dan merokok tiga bungkus sehari.  Selain itu, gue juga memeras keringat dan sel-sel otak untuk memenuhi jadwal deadline. Dan waktu yang gue pakai untuk bunuh diri itu seharusnya gue pakai untuk duduk manis di kantor, ngerjain backlogs yang seabreg. Tapi di saat-saat genting ketika buyer tereak-tereak minta e-inv, gue malahan asyik fb-an. Karena itu gue jadi semakin membenci diri gue sendiri. Gue jadi makin banyak minum kopi, makin banyak merokok. 

Note nggak jelas ini tidak memiliki solusi kecuali mungkin meditasi. Gue perlu liburan mewah tapi gratis (yaeyalah gratis, pan gue udah bangkrut sekarang).  Tapi besok gue harus ngantor dan siap-siap diberondongi pertanyaan==> ngilang kemana gue selama beberapa hari ini.  Katanya sakit, tapi ol terus.  Meski memang tidak ada relevansi antara sakitnya seseorang dengan kecintaan dia terhadap dunia maya.

Yang tambah bikin gue mau bunuh diri adalah rasa bersalah gue terhadap seseorang. Padahal beliau udah baik, padahal beliau udah care, padahal beliau udah mau nge-back up kerjaan gue. Dan yang beliau backup itu adalah mahluk brengsek nggak tahu terima kasih kayak gue.  Whuaaahhhh... ganti kopi ama baygon akh.

Walau pada hakikatnya gue batal mati (mungkin nanti), gue tetep ngerasa frustasi dan ngambek pada diri gue sendiri dan ketololan gue akhir-akhir ini. 

Bagi siapa saja yang membaca tulisan ini, dimohon untuk tidak berempati karena menempatkan diri kalian dalam posisi gue sama saja dengan bunuh diri.

Jadi bener kata si Ibu, mendingan punya gaji kecil tapi cukup daripada gaji gede tapi nggak ada sisa.  Udah deh, nggak usah ngomongin gaji, soalnya gue jadi makin frustasi.

Sekian dan terima kasih.

(Diadaptasi dari FB)
Add to Cart More Info

Minggu, 03 Juli 2011

AMFIBIA REPTILIA TRALALA LALA LALA



Selama ini gue selalu terlibat dengan para lelaki yang berasal dari spesies paling berbahaya. Kalau nggak reptilia biasanya amfibia, atau jenis lain yang terbiasa mengaing dan mengonggong.  Persetan kalau gue mau dibilang kasar, tapi itu memang kenyataan.

Sampai detik tulisan ini diturunkan, gue belum juga menemukan motif-motif mereka yang sesungguhnya.  Sementara ini gue cenderung untuk menyalahkan pihak lain, dalam hal ini mereka para amfibi dan reptil itu. Tapi lama kelamaan terbentuklah semacam deretan pertanyaan yang lebih rumit dari rumus phitagoras di otak gue.  Karena menurut teori medan magnet yang sempat gue pelajari di SMP dulu, kutub positif dan negatif akan tarik menarik.  Jadi siapa yang postitif dan siapa yang negatif?

Padahal kalau mau ditilik-tilik (diperhatikan, sunda), gue cenderung ke kutub negatif, itu artinya gue bakalan menarik kutub positif.  Tapi yang terjadi justru sebaliknya, yang pada nempel adalah para amfibi dan reptil yang memiliki otak negatif.  

Am I that bad?  Am I that bitch?

Kalau syarat untuk dianggap sebagai perempuan  baik-baik adalah dengan cara memakai pakaian sopan, oke gue bisa.  Dengan cara ngomong sopan, ngggg...gue kayaknya bisa.  Terus dengan apa lagi?  Apa sih yang telah gue lakukan sehingga mereka-mereka itu tega ngasah pedang?

Perasaan gue mah cool-cool aja, nggak riweuh paciweh sok hayang kataksir ku balarea.  Jang naon kikituan? Siga nu euweuh gawe wae. (Lho, kok jadi Bahasa Sunda?)

Pedah eta meureunan.  Pedah gue sok siga nu teu butuh padahal mah emang teu butuh (Masih pake Bahasa Sunda ini teh?  Ah biarin terusin ajjah).  Laina hayang jual mahal atawa kumaha, ngan sok haroream weh ngalayanan sabangsaning sasatoan nu keur meujeuhna teh. Meujeuhna naon?  Nyaeta meujeuhna diajak gelut.  Da dina pikiran urang mah (ganti kata ganti pertama), nu aya teh ngan saukur gawe, budak, jeung nulis. Eta wungkul.  Teu kapikiran perkara sasatoan mah, komo mun kudu ngingon mah. Aslina, haroream!

Gue seharusnya bersikap 'wise' terhadap diri gue sendiri dengan tidak memasang tarif tinggi (heuh?). Oke, ganti. Dengan tidak mengahakimi diri gue sendiri cuma gara-gara ada beberapa ekor amfibi yang ngajak kelahi.  Dan pada dasarnya gue udah bosen bikin tulisan kayak gini yang memberi kesan bahwa gue ini sangat laku di pasaran, padahal mah nggak (apa iya?)

Seharusnya, seharusnya nih, gue mengambil tindakan yang lebih anarkis dan vandal daripada ini.  Mungkin gue bisa melakukan vodoo atau sejenis ilmu hitam lain yang lebih mematikan.  Ah, tapi untuk apa?  Toh mereka hanya sekedar mencoba.  Toh mereka hanya amfibi sakit jiwa.  

Gue bukan dokter dan tidak memiliki kapabilitas untuk merawat apalagi menyembuhkan para amfibi dan reptil sakit jiwa itu. Kalaupun punya, belum tentu gue mau ngelakuinnya. Najis!

Sikap paling baik untuk menghadapi  serangan para amfibi itu adalah (barangkali) dengan tidak memberi respon baik itu respon negatif apalagi positif. Ceuk bahasa kerenna mah: IGNORE! Sekarang mending gue bobok dulu, sebelum postingan ini jadi ngelantur kemana-mana.





Add to Cart More Info