Selama ini gue selalu terlibat dengan para lelaki yang berasal dari spesies paling berbahaya. Kalau nggak reptilia biasanya amfibia, atau jenis lain yang terbiasa mengaing dan mengonggong. Persetan kalau gue mau dibilang kasar, tapi itu memang kenyataan.
Sampai detik tulisan ini diturunkan, gue belum juga menemukan motif-motif mereka yang sesungguhnya. Sementara ini gue cenderung untuk menyalahkan pihak lain, dalam hal ini mereka para amfibi dan reptil itu. Tapi lama kelamaan terbentuklah semacam deretan pertanyaan yang lebih rumit dari rumus phitagoras di otak gue. Karena menurut teori medan magnet yang sempat gue pelajari di SMP dulu, kutub positif dan negatif akan tarik menarik. Jadi siapa yang postitif dan siapa yang negatif?
Padahal kalau mau ditilik-tilik (diperhatikan, sunda), gue cenderung ke kutub negatif, itu artinya gue bakalan menarik kutub positif. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, yang pada nempel adalah para amfibi dan reptil yang memiliki otak negatif.
Am I that bad? Am I that bitch?
Kalau syarat untuk dianggap sebagai perempuan baik-baik adalah dengan cara memakai pakaian sopan, oke gue bisa. Dengan cara ngomong sopan, ngggg...gue kayaknya bisa. Terus dengan apa lagi? Apa sih yang telah gue lakukan sehingga mereka-mereka itu tega ngasah pedang?
Perasaan gue mah cool-cool aja, nggak riweuh paciweh sok hayang kataksir ku balarea. Jang naon kikituan? Siga nu euweuh gawe wae. (Lho, kok jadi Bahasa Sunda?)
Pedah eta meureunan. Pedah gue sok siga nu teu butuh padahal mah emang teu butuh (Masih pake Bahasa Sunda ini teh? Ah biarin terusin ajjah). Laina hayang jual mahal atawa kumaha, ngan sok haroream weh ngalayanan sabangsaning sasatoan nu keur meujeuhna teh. Meujeuhna naon? Nyaeta meujeuhna diajak gelut. Da dina pikiran urang mah (ganti kata ganti pertama), nu aya teh ngan saukur gawe, budak, jeung nulis. Eta wungkul. Teu kapikiran perkara sasatoan mah, komo mun kudu ngingon mah. Aslina, haroream!
Gue seharusnya bersikap 'wise' terhadap diri gue sendiri dengan tidak memasang tarif tinggi (heuh?). Oke, ganti. Dengan tidak mengahakimi diri gue sendiri cuma gara-gara ada beberapa ekor amfibi yang ngajak kelahi. Dan pada dasarnya gue udah bosen bikin tulisan kayak gini yang memberi kesan bahwa gue ini sangat laku di pasaran, padahal mah nggak (apa iya?)
Seharusnya, seharusnya nih, gue mengambil tindakan yang lebih anarkis dan vandal daripada ini. Mungkin gue bisa melakukan vodoo atau sejenis ilmu hitam lain yang lebih mematikan. Ah, tapi untuk apa? Toh mereka hanya sekedar mencoba. Toh mereka hanya amfibi sakit jiwa.
Gue bukan dokter dan tidak memiliki kapabilitas untuk merawat apalagi menyembuhkan para amfibi dan reptil sakit jiwa itu. Kalaupun punya, belum tentu gue mau ngelakuinnya. Najis!
Sikap paling baik untuk menghadapi serangan para amfibi itu adalah (barangkali) dengan tidak memberi respon baik itu respon negatif apalagi positif. Ceuk bahasa kerenna mah: IGNORE! Sekarang mending gue bobok dulu, sebelum postingan ini jadi ngelantur kemana-mana.
Add to Cart
More Info